Semester 5
Ada banyak rasa dan
pembelajaran untuk proses yang jauh lebih baik tentunya. Sebenarnya, aku juga
tidak pernah menyangka bisa bertahan selama ini. Beratahan dari sesuatu yang
tidak pernah aku sukai.
Awal semester ini aku buka dengan semua rasa dan kesalahan yang terkuak dan harus kuatasi. Dari akademik, pertemanan, organisasi bahkan keluarga. Tidak semuanya harus diselesaikan, ada yang memang harus disimpan untuk jadi pembelajaran, ada juga yang mau tidak mau harus bisa aku selesaikan.
Teknik elektronika, menurutku gampang – gampang susah. Aku bilang gampang karena aku ternyata bisa melalui itu. Susah, ya saat sedang mental breakdown semua akan terasa susah kan?. Aku masih mencari apa yang sebenarnya membuatku bertahan disini, memang karena aku suka kah? Teman yang banyakkah? Atau beasiswa?. Semua ilmu yang aku dapat rasanya menguap, hilang tak ada sisa. Sensor, sitem kendali, mikrokontroler, teknik digital, manajemen industri, bahkan etika profesi. Belum lagi dosen yang selalu mengejar ‘Tugas akhir mulai dipikirin’, ‘Judul TAnya apa?’ dan hal semacam itu. Harusnya aku sadar, itu sudah masuk waktunya aku memikirkan itu bukan malah sibuk menenangkan diri untuk menyesali ini.
Magang adalah hal yang menurutku menjadi titik balik dari semua hal. Magang tidak hanya memberiku ilmu secara teoritis dan mempraktekkan ilmu yang aku dapat dikampus, tapi juga membuatku melihat apa yang sebenarnya selama ini ada didepan mataku. Banyak hal yang harus bisa aku terima dan harus aku pahami, banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan, salah satunya adalah teman. Teman yang akan selalu ada itu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Bukan berarti kita jadi menjauhi teman kita, bukan. Tapi disini aku menjadi benar – benar tau siapa yang bisa aku sebut sahabat atau teman saja, siapa yang ada disaat kita membutuhkan, bukan malah menjatuhkan dan membuat sebuah ketakutan.
Selain teman, ada juga pelajaran hidup yang aku dapatkan yaitu menerima. Menerima semua yang memang menjadi fakta, salah satunya teknik elektronika walaupun belum sepenuhnya. ‘Han, ko kamu beda engga kaya yang lain?’, awalnya aku kesal. Apa aku seburuk itu? Apa yang membuatku berbeda? Apa karena cara berpakaianku? Atau apa?. Menyamakan dengan yang lain belum tentu membuatku nyaman, dan itu jelas bukan aku. Jadi harus kuterima, kan memang itu faktanya. Bukannya dengan berbeda itu kita bisa belajar menerima?
Tidak semua hal harus baik-baik saja, mungkin harus ‘ada apa’ untuk bisa memaknainya. Kita tidak harus mengerti tapi mencoba memahami semua yang terjadi. Mungkin rasa kesal dan menyesal harus selalu ada untuk membuat kita sadar dan mengerti harus memulai dari mana.
Awal semester ini aku buka dengan semua rasa dan kesalahan yang terkuak dan harus kuatasi. Dari akademik, pertemanan, organisasi bahkan keluarga. Tidak semuanya harus diselesaikan, ada yang memang harus disimpan untuk jadi pembelajaran, ada juga yang mau tidak mau harus bisa aku selesaikan.
Teknik elektronika, menurutku gampang – gampang susah. Aku bilang gampang karena aku ternyata bisa melalui itu. Susah, ya saat sedang mental breakdown semua akan terasa susah kan?. Aku masih mencari apa yang sebenarnya membuatku bertahan disini, memang karena aku suka kah? Teman yang banyakkah? Atau beasiswa?. Semua ilmu yang aku dapat rasanya menguap, hilang tak ada sisa. Sensor, sitem kendali, mikrokontroler, teknik digital, manajemen industri, bahkan etika profesi. Belum lagi dosen yang selalu mengejar ‘Tugas akhir mulai dipikirin’, ‘Judul TAnya apa?’ dan hal semacam itu. Harusnya aku sadar, itu sudah masuk waktunya aku memikirkan itu bukan malah sibuk menenangkan diri untuk menyesali ini.
Magang adalah hal yang menurutku menjadi titik balik dari semua hal. Magang tidak hanya memberiku ilmu secara teoritis dan mempraktekkan ilmu yang aku dapat dikampus, tapi juga membuatku melihat apa yang sebenarnya selama ini ada didepan mataku. Banyak hal yang harus bisa aku terima dan harus aku pahami, banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan, salah satunya adalah teman. Teman yang akan selalu ada itu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Bukan berarti kita jadi menjauhi teman kita, bukan. Tapi disini aku menjadi benar – benar tau siapa yang bisa aku sebut sahabat atau teman saja, siapa yang ada disaat kita membutuhkan, bukan malah menjatuhkan dan membuat sebuah ketakutan.
Selain teman, ada juga pelajaran hidup yang aku dapatkan yaitu menerima. Menerima semua yang memang menjadi fakta, salah satunya teknik elektronika walaupun belum sepenuhnya. ‘Han, ko kamu beda engga kaya yang lain?’, awalnya aku kesal. Apa aku seburuk itu? Apa yang membuatku berbeda? Apa karena cara berpakaianku? Atau apa?. Menyamakan dengan yang lain belum tentu membuatku nyaman, dan itu jelas bukan aku. Jadi harus kuterima, kan memang itu faktanya. Bukannya dengan berbeda itu kita bisa belajar menerima?
Tidak semua hal harus baik-baik saja, mungkin harus ‘ada apa’ untuk bisa memaknainya. Kita tidak harus mengerti tapi mencoba memahami semua yang terjadi. Mungkin rasa kesal dan menyesal harus selalu ada untuk membuat kita sadar dan mengerti harus memulai dari mana.
Komentar
Posting Komentar