Langsung ke konten utama

Organisasi


Sunguh sangat banyak perubahan yang terjadi kepadaku karena organisasi. Dari diriku yang anti sosial, tak punya banyak teman, takut berbicara didepan banyak orang dan  mengemukanan pendapat menjadi sebaliknya.

Organisasi pertama yang aku ikuti adalah OSIS dan lebih mengejutkan lagi adalah jabatannya, sekretaris. Tanggung jawab yang sangat besar menurutku sebagai orang yang masih sangat baru dalam kehidupan organisasi. Apa itu proposal? Bagaimana cara membuatnya? Hah membuat surat pengumuman bahkan surat undangan?  Menangis karena organisasi? Pernah, tapi lebih banyak tawanya. Hal paling menyenangkan saat itu adalah keluar kelas untuk rapat. OSIS adalah awal pertama dimana aku benar – benar percaya bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang awalnya aku takuti. Memiliki banyak teman dari kelas yg berbeda bahkan kakak kelas dan juga adik kelas, rasanya sangat menyenangkan. Tapi ada satu hal yang sungguh tidak aku sukai, yaitu menjadi bahan gosip banyak orang.

Organisasiku yang kedua adalah saat aku kuliah yaitu BEM. Aku menjabat sebagai salah satu staff di Departemen KOMINFO hal yang tentunya juga baru untukku, dimana aku dituntut untuk bisa berbagai software editing adan kreatif untuk membuat konten di instagram. Rapat pulang jam 12 malam, membuat banyak acara, menjajal semua jenis seksi, dan yang tak akan pernah aku lupakan Musyawaah Daerah.

Pernah dikeluarkan dari organisasi?
Aku pernah, BEM. Sungguh aku sangat kesal, sangat – sangat marah. Karena aku tak tau salahku apa, apa yang membuat aku dikeluarkan masih tidak ada kejelasan sampai sekarang. Sungguh dunia sangat tidak adil bukan, setelah apa yang telah kita berikan tak dihargai orang lain dan dengan tanpa sungkannya mengeluarkan kita tanpa adanya kejelasan.

Organisasiku yang ketiga adalah Ikatan alumni di sekolah, bertemu dengan banyak kakak kelas yang dulu satu organisasi di OSIS rasanya seperti nostalgia. Orang yang harus aku hadapi saat itu adalah para alumni dan juga adik kelas. Jujur saat itu rasanya aku kesal dengan beberapa orang alumni, apa yang membedakan antara kuliah dan kerja, bukankah itu sama saja kenapa harus didebatkan?

Aku ingat, masih sangat jelas rasanya dimana aku malah merusak acaraku sendiri, bayangkan kau menjadi ketua panitia tapi kau menghancurkan acaranya. Aku benar – benar marah kepada diriku sendiri, kecewa. Dan mulai mengakatan ‘kamu memang tak pantas untuk itu, tak ada yang benar – benar pantas untukmu fa’ aku menjadi orang paling jahat, sungguh aku benar – benar ingin meminta maaf kepada semua panitia. Aku salah benar – benar salah, menyalahakn semua orang untuk menutupi keadaanku yang sudah sangat dibawah saat itu.

Memilih antara ujian dan acara, tak ada yang tau cerita sebenarnya. Aku hanya diam dan memarahi diriku sendiri. Aku benar – benar bingung saat itu, dosenku mengancam tidak memberiku nilai, ‘Kamu itu engineering’. Aku hanya menangis dan semua pikiran buruk itu datang. ‘Fa, ayok sebelum dikeluarkan kamu harus mengeluarkan diri’, ‘Fa, kamu emang ga pernah becus buat apapun’, ‘Fa, semua itu salah kamu’, ‘Fa, kenapa kamu harus disana, kenapa kamu selalu diam’. Semua orang benar – benar marah padaku, begitupun aku pada diriku sendiri.

Aku sendiri, benar – benar sendiri yang aku lakukan hanya melamun dan juga menangis. Akhir bulan ramadhan kemarin ikatan alumniku mengajakku untuk bergabung lagi, aku kira aku telah siap. Tapi kenyataannya 100% berbeda, disaat – saat terakhir aku akan berangkat ke acara tersebut aku takut, sangat amat takut. Takut aku menghancurkan acara itu lagi, dan dengan sangat spontan aku tidak jadi datang. ‘Pengecut kamu fa’, benar. Aku pengecut.

Aku malu untuk menanyakan bagaimana acara tahun ini? Apalagi saat aku melihat pesan singkat seorang kakak kelas yang berkata seperti ini ‘Alah gausah bawa – bawa dia nanti nyesel lagi, terus cuma bisa bilang cape’. Sungguh sangat menyakitkan, jadi tahun ini aku absen dari acara itu, atau mungkin selamanya.

Intinya semua organisasi itu baik, banyak hal yang bisa kita ambil. Aku mulai bisa menerima bahwa aku dikeluaran karena ada sebabnya entah itu dikatakan padaku atau tidak. Ketakutan dan kegelisahan itu ada, jika semakin besar bisa menghancurkan segalanya. Aku harus lebih bisa menerima beberapa hal, harus bisa mengontrol emosi dan harus sanggup membedakan 2 hal yang mirip tapi tak sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu cantik? Aku tidak cukup cantik untuk bisa dikategorikan ‘cewe cantik’ dimasyarakat. Tidak dapat dipungkiri juga kadang ada saat dimana aku iri dengan orang cantik. Bagaimana sih rasanya jadi cewe cantik yang selalu mendapatkan perlakuan lebih dimasyarakat? Apa harus cantik dulu agar kita diperlakukan sama? Apakah dengan cantik sebuah pelanggaran aturan dapat dibenarkan ‘engga apa – apalah yang penting cantik’. Seistimewa itu ternyata orang cantik. Sering kali aku minder dengan teman – temanku yang ‘cantik’ yang dikejar – kejar para cowo, yang selalu disapa orang, yang selalu didahulukan, jadi cover foto sekolah, dikenal banyak guru ataupun dosen dan banyak lagi. Aku sempat kalap dan mencoba untuk menambah berat badan agar bisa diterima, mencoba menguruskan badan yang beratnya tidak seberapa, memakai masker alami bahkan kimia, semua hal aku lakukan untuk ‘cantik’. Sampai akhirnya aku sedikit diterima dimasyarakat karena aku memiliki keahlian lain yang jelas ...
Semester 5 Ada banyak rasa dan pembelajaran untuk proses yang jauh lebih baik tentunya. Sebenarnya, aku juga tidak pernah menyangka bisa bertahan selama ini. Beratahan dari sesuatu yang tidak pernah aku sukai. Awal semester ini aku buka dengan semua rasa dan kesalahan yang terkuak dan harus kuatasi. Dari akademik, pertemanan, organisasi bahkan keluarga. Tidak semuanya harus diselesaikan, ada yang memang harus disimpan untuk jadi pembelajaran, ada juga yang mau tidak mau harus bisa aku selesaikan. Teknik elektronika, menurutku gampang – gampang susah. Aku bilang gampang karena aku ternyata bisa melalui itu. Susah, ya saat sedang mental breakdown semua akan terasa susah kan?. Aku masih mencari apa yang sebenarnya membuatku bertahan disini, memang karena aku suka kah? Teman yang banyakkah? Atau beasiswa?. Semua ilmu yang aku dapat rasanya menguap, hilang tak ada sisa. Sensor, sitem kendali, mikrokontroler, teknik digital, manajemen industri, bahkan etika profesi. Belum lagi do...
Cerita tentang aku Hai, perkenalkan namaku Hanifah. Nama lengkapku terlalu panjang layaknya gerbong kereta didepan rumahku, Hanifah Yuli HPN. Saat cerita ini ditulis umurku telah 20 tahun lebih 1 bulan 3 hari. Iya 20 tahun tapi tak pernah mengenal laki – laki, ehh bukan – bukan tak tau bagaimana rasanya berpacaran. Apakah kalian pernah? Beruntunglah kalian jika pernah merasakannya setidaknya sekali untuk seumur hidup. Rasanya lucu saat aku kecil dulu aku selalu melihat orang dewasa berpacaran, tapi sekarang aku yang melihat anak kecil berpacaran.  Aku lahir dari seorang ibu, tidak panngil dia mamih. Kalau sammpai ada yang memanggilnya ibu dia akan langsung menjawab ‘ba bu ba bu, babumu’ heheh dia memang begitu katanya panggilan ‘ibu’ hanya untuk yang terlihat tua saja.  Mamih yang sangat cerewet,  galak, melankolis, overprotektif, tapi penyayang. ‘Jangan deket sama cowo dulu, fokus pelajaran.’ katanya, mungkin itu mantranya sampai saat ini aku tak terlalu pusing j...