Langsung ke konten utama

Cerita tentang aku


Hai, perkenalkan namaku Hanifah. Nama lengkapku terlalu panjang layaknya gerbong kereta didepan rumahku, Hanifah Yuli HPN. Saat cerita ini ditulis umurku telah 20 tahun lebih 1 bulan 3 hari. Iya 20 tahun tapi tak pernah mengenal laki – laki, ehh bukan – bukan tak tau bagaimana rasanya berpacaran. Apakah kalian pernah? Beruntunglah kalian jika pernah merasakannya setidaknya sekali untuk seumur hidup. Rasanya lucu saat aku kecil dulu aku selalu melihat orang dewasa berpacaran, tapi sekarang aku yang melihat anak kecil berpacaran. 
Aku lahir dari seorang ibu, tidak panngil dia mamih. Kalau sammpai ada yang memanggilnya ibu dia akan langsung menjawab ‘ba bu ba bu, babumu’ heheh dia memang begitu katanya panggilan ‘ibu’ hanya untuk yang terlihat tua saja.  Mamih yang sangat cerewet,  galak, melankolis, overprotektif, tapi penyayang. ‘Jangan deket sama cowo dulu, fokus pelajaran.’ katanya, mungkin itu mantranya sampai saat ini aku tak terlalu pusing jika tidak berpacaran tapi tak jarang mamih juga menanyakan dia, ah sudahlahh. Dia sedikit gaptek, bayangkan saja dia hanya bisa menggunakan ponsel jadul bukan smartphone bukan karena tidak bisa sebenarnya tetapi dia sedikit malas untuk belajar, tapi sering kepo. Jika aku pualng dari kampus lebih dari jam 7 malam dia akan menunggu didepan jalan, dan langsung berkata ‘emang ga boleh ijin pulang duluan, cewe rumahnya jauh jalannya jelek lagi’, kadang aku sebal iya karena sebelumnya aku sudah meminta izin untuk pulang malam lagipula aku pulang malam bukan untuk bermain tetapi mengerjakan project atau tugas, ya kadang kala ghibah juga sih hehehe.
Kalian tau mamih sangat memanjakan anaknya, sampai umurku saat ini bayangkan 20 tahun bajuku selalu dicuci oleh mamih, alasannya sangat lucu takut aku terlalu banyak menumpahkan deterjen atau takut aku malah bermain air, tapi bukan berarti aku tidak membantunya yahh aku selalu membantu membilas pakaian atau menjemurnya. Ahh iya aku ingat dulu saat aku masih sekolah dasar mamih ditakuti oleh teman – temanku, galak katanya. Mamih pernah menarik rambut kakak kelasku, hahahah aku masih sangat ingat hari itu. Sebenarnya salah kakak kelasku sendiri, dia suka meminta uang pada adik kelasnya jika tidak dia akan memukulnya dengan jangka dari kayu ahh aku juga ingat bagaimana rasanya. Aaishh michin ssaekki. Tak ada yang berani mengadukannya pada orang tua, kecuali aku ‘sang anak mamih’. Ada lagi, dari kecil sampai ssat ini aku selalu memotong kuku tangan maupun kaki mamih dan juga mencabut bulu ketek mamih saat itu belum muncul uban. Konyolnya para teman laki – lakiku melihatnya ketika sedang bersepeda. Tidak itu bencana. Iya sampai kini jika reuni sekolah dasar mereka selalu ‘Han, masih cabut bulu ketek mamih?’ hehhh tolonglahh hapus ingatan mereka, tuhan.
Bapak, lucu yah mamih dan bapak hahaha. Dia laki – laki hebat, yang menembus hujan demia anaknya sekolah. Bapakku lucu, tampan, tinngi, mancung, bijaksana, boyfriendable tapi hitam, perokok dan sedikit malas. Dia disenangi banyak orang iya karena lucu, dulu dia seorang pengamen, pedangan di kereta, penjaga wc distasiun, gitaris, guru bahasa korea, TKI di korea, dan sekarang penjual burung. Maka dari itu kubilang dia hebat, demi anaknya sekolah dan makan dia akan melakukan apa saja. Jika aku menceritakannya disini mungkin aku akan menangis.
Selanjutnya Gita, adikku yang pertama. Dia anak yang cerdas, multitalend, pemarah, doyan makan tapi lelet, lemah dan hobinya rebahan. Dari sd dulu dia sudah sangat pintar, tidak sepertiku yang hanya menempati posisi 7 ataupun 9. Dia selalu mendapat peringkat 1 dari kelas satu hingga kelas enam sd, piagamnya sangat banyak hingga rasanya ingin kubakar saja karena iri hahaha. Dia selalu mengikuti apapun yang kulakukan, aku dulu dirijen paduan suara saat sd dia mengikuti, masuk SMP yang sama, SMA yang sama, bahkan jabatan sekretaris osis, dirijen paduan suara sekolah, eskul tari dia mengikutinya tapi tidak untuk sekarang kita memilih jalan yang berbeda di universitas. Universitas Trunojoyo Madura jurusan Agroekoteknologi, besok dia berulang tahu. Gitol selamat ulang tahun ya, sehat disana, makan yang enak, belajar yang baik, tunngu aku punya uang lebih untuk mengirimkanmu sepatu.  Maaf ya, jadi sedikit kebablasan. Iya aku sedikit iri kadang padanya, dia selalu mendapatkan banyak orang yang menyukainya dan teman yang banyak, tetapi ada satu hal yang lebih aku ungguli dia tidak pandai menghitung hahaha. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia menyayangiku begitupun sebaliknya, tapi dia selalu menjadi orang pertama yang akan maju jika aku tersakiti. Pernah ada cerita, dulu ssat masih sd motor bapakku sangat butut, teman sebangkuku saat kelas 4 sd memanggilku dengan ‘motor ceketer’ aku selalu menangis. Hingga Gita datang dan mengejar laki – laki itu menariknya, dan memukulnya. Gita memang lebih premanisme daripada aku saat marah.
Adikku yang kedua, dede. Nama aslinya laila, tapi aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan ‘dede’ tentu saja karena dia anak terakhir. Dia yang paling cantik diantara kami bertiga, nakal, dan yang paling pintar sendiri ‘dalam tanpa kutip’, sampai kapanpun dia tetap adik kecilku yang manis yang selalu meminta sesuatu jika melihat iklan. ‘Wa, pengen es krim’ setiap hari dia selalu mengatakan itu bayangkan bagaimana kalian bisa bertahan dengan itu. Dia jauh lebih handal dalam hal perbucinan, iya 4 pacarnya aku dan Gita yang memutuskannya. Wah setidaknya aku pernah memutuskan seseorang, walaupun tak pernah berpacaran. Saking nakalnya ponselnya pernah disita oleh sekolah 3x dan betapa malunya aku dan juga Gita sebagai siswa teladan sekolah. Dia pintar sebenarnya tapi malas untuk belajar, hp teross.
Aku hidup dikelilingi oleh banyak orang yang mencintai dan menyayangiku baik itu keluarga maupun sahabat. Dari aku sekolah dasar dulu aku membuat sebuah kelompok teman yang mungkin pada jaman sekarang disebut dengan gank, itu sebenarnya tidak baik karena mengelompokan orang dan mengucilkan yang lain. Aku termasuk siswa teladan saat sd ikut menari, masuk 10 besar, seorang dirijen, paduan suara, lomba menyanyi tunggal dan lain sebagainya, tetapi ada trauma yang sudah membuntutiku dari saat aku masih sd yaitu ‘tunggakan’ atau dalam bahasa bakunya tinggal kelas.
Ketika smp aku termasuk orang yang tidak dikenali banyak orang, cupu. Dan traumaku semakin menjadi, karena status sosial maupun ekonomi yang membuatku sering kali merasa rendah ataupun minder. Belum lagi dengan saingan yang jauh lebih banyak, rangkingku anjlokn ke 20 besar. Tidak bisa matematika, fisika, bahasa inggris dan elektronika. Semua nilai raport untuk muatan lokal elektronika adalah ‘lulus dengan remidi’. Aku sekolah disalah satu smp favorit di tempatku, dan saat smp ini aku semakin menyukai korea, kpop. Aku sangat menyukai SNSD (Girls Generation), Super Junior, dan lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu cantik? Aku tidak cukup cantik untuk bisa dikategorikan ‘cewe cantik’ dimasyarakat. Tidak dapat dipungkiri juga kadang ada saat dimana aku iri dengan orang cantik. Bagaimana sih rasanya jadi cewe cantik yang selalu mendapatkan perlakuan lebih dimasyarakat? Apa harus cantik dulu agar kita diperlakukan sama? Apakah dengan cantik sebuah pelanggaran aturan dapat dibenarkan ‘engga apa – apalah yang penting cantik’. Seistimewa itu ternyata orang cantik. Sering kali aku minder dengan teman – temanku yang ‘cantik’ yang dikejar – kejar para cowo, yang selalu disapa orang, yang selalu didahulukan, jadi cover foto sekolah, dikenal banyak guru ataupun dosen dan banyak lagi. Aku sempat kalap dan mencoba untuk menambah berat badan agar bisa diterima, mencoba menguruskan badan yang beratnya tidak seberapa, memakai masker alami bahkan kimia, semua hal aku lakukan untuk ‘cantik’. Sampai akhirnya aku sedikit diterima dimasyarakat karena aku memiliki keahlian lain yang jelas ...
Semester 5 Ada banyak rasa dan pembelajaran untuk proses yang jauh lebih baik tentunya. Sebenarnya, aku juga tidak pernah menyangka bisa bertahan selama ini. Beratahan dari sesuatu yang tidak pernah aku sukai. Awal semester ini aku buka dengan semua rasa dan kesalahan yang terkuak dan harus kuatasi. Dari akademik, pertemanan, organisasi bahkan keluarga. Tidak semuanya harus diselesaikan, ada yang memang harus disimpan untuk jadi pembelajaran, ada juga yang mau tidak mau harus bisa aku selesaikan. Teknik elektronika, menurutku gampang – gampang susah. Aku bilang gampang karena aku ternyata bisa melalui itu. Susah, ya saat sedang mental breakdown semua akan terasa susah kan?. Aku masih mencari apa yang sebenarnya membuatku bertahan disini, memang karena aku suka kah? Teman yang banyakkah? Atau beasiswa?. Semua ilmu yang aku dapat rasanya menguap, hilang tak ada sisa. Sensor, sitem kendali, mikrokontroler, teknik digital, manajemen industri, bahkan etika profesi. Belum lagi do...