20
tahun jomblo gimana rasanya?
Aku
tak pernah berpacaran bahkan terakhir aku putus itu dengan ari – ari sewaktu
lahir, bukan berarti aku tak mengenal laki – laki yah. ‘Jones banget dong?’. Hehehe
kadang pemikiran seperti itu ada, ‘Gimana sih rasanya punya ‘rumah’ lain selain
orang tua’, ‘Gimana sih rasanya punya pasangan?’, ‘Apakah seindah itu’.
Tapi
selalu ada pertanyaan yang balik lagi dari diri aku sendiri ‘Fa, kamu siap buat
berdua?’ dan jawabanya adalah tidak. Sejuah ini masih itu. Bukan menutup
kemungkinan bahwa aku tau mau untuk berdua.
Menurutku
banyaknya jumlah mantan atau gebetan yang telah ditinggalkan itu bukan sebuah
prestasi, jadi kenapa banyak orang yang malah membanggakan itu?. Aku pernah beberapa
kali mencoba untuk dekat dengan laki – laki tapi tak berakhir apapun, ada yang
mungkin hubungan tanpa status atau hanya rasa tak enakku dan mecoba menghargai
perasaanya. Dan yah, malah berujung dengan kecanggungan pada akhirnya.
Bukan
tidak benar – benar memikirkannya, dipikiranku ‘berdua’ atau memiliki pasangan
itu bukan prioritas utama, jadi untuk apa kita terlalu mengejar itu. Untuk memamerkanya
pada teman? Atau mungkin memenuhi standar sosial?
Sampai
akhirnya ada momen disaat adikku mengirim pesan melalui whatsapp dan berkata
bahwa aku akan diobral ke kakak kelasnya. Awalnya aku menanggapinya dengan
serius, ‘Apa aku sekaku itu?’, ‘Apa aku tak selaku itu?’, ‘Apa aku tak sanggup
mencari pasanganku sendiri?’
Ternyata
sekarang pertanyaan itu masuk daftar pertanyaan sensitif selain ‘Judul tugas
akhirnya apa?’. Adiku menjawab bahwa sudah saatnya aku untuk memulai menyukai
laki – laki real life. Aku sebenarnya tertawa, sungguh aku seorang fangirl
bukan berarti aku tak bisa menyukai laki – laki real life. Atau kenapa aku
harus berhenti di dunia fangirl untuk diterima oleh laki – laki real life. Itu tak
sejalan dengan prinsipku, fangirl hanya sebuah hobi. Kenapa kita harus menghentikan
hobi kita hanya demi untuk mendapat pasangan?
Oh
ayolah berhenti hidup dengan standar masyarakat bahwa tak mempunyai pacar
sampai umur 20 tahun bisa dicap ini itu, atau memilih menikah diusia lebih dari
25 tahun harus dicap perawan tua atau yang lainnya.
Jadi
tak usah tergesa – gesa karna belum pernah berpcaran dan umurmu menginjak 20
tahun. Tuhan masih percaya kamu kuat dan sanggup untuk sendiri, itu adalah
kalimat penenangku jika pertanyaan itu mulai hadir. Jangan menjebak dirimu
sendiri untuk memulai hubungan dengan seseorang hanya untuk mendapatkan
predikat atau pengakuan sosial.
Komentar
Posting Komentar